Sejarah Batik

Sejarah Batik

diposting 13 Mei 2017 by Admin

Halo Konco Hamzah semua, Konco Hamzah? Iya, itu sebutan bagi pencinta Hamzah Batik. Konco itu artinya sahabat. Jadi kalian ini udah kita anggap sebagai sahabat kita, Hamzah Batik. Sebagai Konco Hamzah, pastinya kalian pernah main ke tempat kami. Di sana kalian pasti akan menemukan banyak motif dan jenis batik. Tidak heran, kalau kalian sering bingung memilih karena koleksi batik kami yang lengkap. Tidak sedikit juga dari kalian yang sering bertanya tentang motif, jenis kualitas, makna sampai cara perawatan batik. Nah, sekarang kita akan membahasnya satu persatu semua yang berkaitan tentang batik dari berbagai sumber yang terpercaya. Bicara tentang batik, nggak pas kalau kita belum tau tentang sejarah batik. Kata orang bijak, sejarah itu penting kita ketahui karena dari situ kita akan tahu proses, inti, dan nilai dari setiap peristiwa. Langsung aja, kita akan mengulas tentang sejarah batik.

Batik merupakan warisan kesenian leluhur atau nenek moyang kita dahulu. Batik pertama kali diperkenalkan dengan nama batex oleh Chastelein, seorang anggota Raad van Indie (Dewan Hindia) pada tahun 1705. Sampai akhirnya teknik itupun berkembang. Menurut Kuswadji dalam buku “Mengenal Batik dan Cara Membuat Batik” secara etimologi batik berasal dari bahasa jawa mbatik yang terdiri dari 2 kata mbat yang artinya ngembat atau melempar dan tik  artinya titik atau matik. Jadi kalo digabungkan artinya melemparkan titik berkali-kali ke sebuah kain. Berdasarkan etimologi tadi sebenarnya batik dikaitkan dengan suatu teknik atau proses dari mulai menggambar pola sampai pelorodan.

Batik telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpiece of the Oral an Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009. Dalam literatur Internasional, teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam dikenal dengan wax-resist dyeing. Teknik ini adalah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukan  bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke 4 SM, dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di India, teknik tersebut diberi nama chinz dengan pewarna sintetis yang disebut mordant. Di Afrika, juga dikenal oleh suku Yoruba di Nigeria, serta suku Soninke dan Wolof di Senegal.

Bagaimana dengan perkembangan batik di Indonesia?

Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, namun kehadiran batik tidak begitu tercatat. G.P Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke 6 atau ke 7. Berjayanya kain di India, menyebabkan produksi kain batik komersial tidak berkembang di Indonesia. Batik hanya menjadi kerajinan rumah tangga dan kebutuhan sendiri. Kaum bangsawan lebih menyukai kain India dengan kualitas yang lebih baik. Namun, dalam perkembangannya, ketika Eropa dapat memproduksi kain sendiri, industri kain India mengalami kemunduran. Bahkan di akhir abad ke 18, Inggris mengekspor kain ke India. Kondisi ini menyebabkan berkembangnya pembatikan di Indonesia. Namun arkeolog Belanda, J.L.A. Brandes dan arkeolog Indonesia, F.A. Sutjipto percaya bahwa tradisi batik berasal dari daerah Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Yang harus kalian tau, bahwa semua daerah ini tidak dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi memang memiliki tradisi kuno membuat batik.

Bagaimana batik bisa berkembang di tanah Jawa?

Menurut G.P. Rouffaer dalam tulisannya bahwa gringsing sudah dikenal pada abad ke 12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London,1817) oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang saat itu menjabat menjadi Gubernur Inggris di Jawa saat Napoleon menduduki Belanda. Dalam buku  itu juga diceritakan pada 1873, seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar kain batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke 19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Namun dalam perkembangannya, batik dipercaya sudah ada semenjak Kerajaan Majapahit dan menjadi sangat populer di abad 18 atau awal adab 19 dengan munculnya batik tulis sampai abad 20. Pusat pembuatan batik pada waktu Kerajaan Majapahit berada di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto dikenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit serta pusat masyarakat mengembangkan batik, sedangkan Tulung Agung adalah daerah yang berhasil ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit untuk memperluas kekuasaannya.

Batik dahulu hanya dikerjakan di dalam beteng kerajaan. Yang membatik adalah para abdi kerajaan dan prajurit-prajurit kerajaan. Oleh sebab itu dahulu kain batik sangat terbatas, yang menggunakan hanya Raja dan keluarganya. Begitu sampai peralihan Majapahit ke Mataram, batik diwariskan secara turun temurun. Karena keunikan dan keistimewaan batik, banyak kalangan di luar kerajaan yang tertarik untuk membatik. Batik menjadi semakin berkembang baik motif maupun perdagangannya. Lalu akibat perang saudara, pada tahun 1755, Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, yakni Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Karena itu, batik – batik yang dikembangkan di Keraton terlihat jelas mendapat pengaruh dari tradisi Hindu yang berakar sejak berabad – abad lamanya.

Semenjak Kerajaan Mataram pada masa Panembahan Senopati, batik berkembang di daerah Plered. Batik terus meluas dan berkembang dengan berbagai peristiwa yang terjadi seperti perang ,misalnya, maka banyak keluarga raja yang mengungsi dan menetap di beberapa daerah baru antara lain Banyumas, Pekalongan, Ponorogo serta Tulung Agung. Pada saat terjadi Perang Dipenogoro melawan Belanda, mendesak pangeran, keluarga serta pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke daerah Timur dan Barat. Di daerah itulah mereka mengembangkan batik. Batik Solo dan Yogyakarta, lebih menyempurnakan bentuk batik yang telah ada di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke daerah seperti Gresik, Surabaya, Madura, Banyumas, Pekalongan, Tegal dan Cirebon.

Setelah masa kemerdekaan, Presiden Sukarno menginginkan batik gaya baru yang tidak terpengaruh oleh Eropa, yang diistilahkan dengan batik Indonesia. Lalu bermunculan para tokoh batik nasional seperti Ibu Bintang Soedibyo, Hardjonagoro (Go Tik Swan), dan Iwan Tirta. Mereka berkreasi membuat kain – kain berkualitas tinggi yang khas Indonesia.

Batik terus berkembang dari masa ke masa, perkembangan jaman mempengaruhi kreatifitas manusia. Sampai saat ini motif batik sudah semakin beragam, oleh karena itu saat ini banyak motif batik yang keluar dari pakem, yang disebut batik kontemporer. Misalnya bisa kita lihat motif bunga yang dahulu hanya bunga melati, kenanga, sekarang sudah ada dari budaya barat seperti bunga tulip, sakura, dll. Contoh lagi yang dahulu motif burung hanya burung garuda, sekarang ada masuk motif burung phoenik pengaruh dari budaya cina.

Selain motif, proses pembuatan juga mengalami perkembangan. Dari awal menggunakan canting sekarang menggunakan cap. Teknik pembuatan batik dengan cap disebut batik cap. Teknik pewarnaan juga mengalami perkembangan, yang awalnya bahan pewarna hanya menggunakan bahan-bahan alam dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, nila dan soga kayu. Sekarang menggunakan bahan pewarna dari kimia.

Kira-kira seperti itu sejarah perkembangan batik hingga saat ini. Panjang juga ya sejarahnya. Itu baru sejarah, nanti akan kita bahas lagi tentang filosofi, motif dan apapun yang berhubungan dengan batik. Tunggu ya artikel kita selanjutnya di www.hamzahbatik.co.id bisa juga di instagram kita @hamzahbatikofficial.

Sumber

Depdikbud Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Permuseuman. 1991. Pameran Khusus Peranan Batik Sepanjang Masa. Depdikbud. Yogyakarta.

Hamidin, Aep S. 2010. Batik Warisan Budaya asli Indonesia. Narasi. Jakarta.

Prasetyo, Dr. Anindito, M.Sc. 2010, Batik Karya Agung Warisan Budaya Dunia, Pura Pustaka, Yogyakarta.

Sanggar Batik Barcode. 2010. Mengenal Batik dan Cara Mudah Membuat Batik. Tim Sanggar Batik Barcode. Jakarta.

Tjahjani, Indra. 2013. Yuk, Mbatik! Paduan Terampil Membatik untuk Siswa. Esensi. Jakarta.

Berita & Acara Terbaru

Ragam Hias Batik (Part 1)
Ragam Hias Batik (Part 1)
diposting 13 Juni 2017
Raminten Cup III
Raminten Cup III
diposting 07 April 2017
Ngaji keris
Ngaji keris
diposting 07 April 2017
Seribu Setiap Sabtu
Seribu Setiap Sabtu
diposting 07 April 2017
Tour Karyawan Hamzah Batik
Tour Karyawan Hamzah Batik
diposting 07 April 2017