02 Mar
Hamzah Batik
Posting pada 02 Maret 2017

Tepat di bahu barat Jalan Malioboro, berdiri sebuah bangunan berwarna putih. Bangunan ini terletak di utara Gedung Agung serta berseberangan dengan Benteng Vredeburg dan Pasar Bringharjo. Deretan kaki lima berkanopi  oranye yang terdapat di beranda bangunan ini dipadati oleh pengunjung  sebelum memasuki pintu masuk yang bertuliskan ”Copet Dilarang Masuk”. Kalimat yang menggelitik itu menambah rasa penasaran pengunjung untuk merasakan atmosfir lainnya dalam bangunan tersebut. Dan ternyata, sensasi lain pun dapat dinikmati  sembari berbelanja produk yang tertata dengan berbagai macam pilihan. Pengunjung dapat merasakan sensasi aroma yang berasal dari dupa, sensasi suara yang berasal dari iringan gendhing Jawa dan sensasi penglihatan yang dapat dinikmati dari tatanan kembang – kembang, Kereta Kencana, foto – foto dokumentasi serta display ala Kraton. Pengunjungpun disambut oleh keramahan karyawan dalam balutan seragam berkonsep Jawa dengan sentuhan modern dan elegan. Tak heran, jika banyak pengunjung yang mengabadikan gambar saat berada dalam bangunan ini. Hamzah Batik yang dulunya bernama Mirota Batik. Begitulah nama dari bangunan ini dengan segala keunikannya.

Mirota Batik dibuka sekitar bulan Juni tahun 1979 oleh Hamzah Sulaiman.  Awalnya Mirota adalah suatu bidang usaha makanan dan minuman yang didirikan oleh orangtua dari Hamzah Sulaiman, yakni Hendro Sutikno dan Tini Yuniati. Nama Mirota merupakan singkatan dari minuman, roti dan tawar. Namun di sisi lain, Hamzah sangat menaruh kecintaannya pada batik. Ia sadar bahwa batik perlahan akan punah. Maka dari itu, ia sangat ingin melestarikannya.

Pada awalnya, Mirota Batik hanya menempati ruang kecil yang terdapat  di sudut selatan bagian depan dengan luas 110m2. Tetapi keuletan Hamzah membuktikan bahwa Mirota dapat bertahan dan semakin berkembang. Toko tersebut kian lama semakin dipadati oleh pengunjung.  Namun pada awal tahun 2004, Hamzah mendapat ujian ketika Mirota Batik dilalap api hingga hangus terbakar. Hal ini membuat Hamzah gelisah karena bangunan rusak dan untuk memperbaikinya diperlukan proses renovasi. Terlebih lagi, Hamzah sangat memikirkan nasib karyawannya yang menaruh harapannya pada Mirota Batik. Maka dari itu, Hamzah membuka Mirota Batik yang berada di timur Jalan Malioboro sebagai toko sementara. Hal ini ia lakukan agar para karyawannya dapat tetap bekerja sambil menunggu Mirota Batik dibangun kembali.

Ternyata, cobaan ini mampu dilaluinya, ia mengambil sikap hingga lambat laun Mirota Batik menampakan fisik bangunannya. Tak tanggung – tanggung, kini bangunan tersebut diperluas hingga tiga lantai. Lantai 1 untuk  counter batik, oleh – oleh makanan dan jamu herbal. Lantai 2 untuk counter kerajinan dan cinderamata. Lantai 3 untuk kantor dan musholla. Selain itu, Hamzah menambah fasilitas lainnya seperti ruang tunggu Raminten 3 Resto dan Raminten Photography. Kini, Mirota Batik berganti nama menjadi Hamzah Batik karena Hamzah ingin mengabadikan namanya dalam karya di bidang usahanya.

Perkembangan Hamzah Batik sampai saat ini tidak lain adalah bekal ilmu dari Hamzah untuk para karyawannya. Hamzah menitipkan sebuah falsafah sebagai bekal dalam berkarya di Hamzah Batik.

Falsafah Hamzah Batik:

  1. Hamzah Batik merupakan satu keluarga besar yang berusaha meningkatkan taraf hidup melalui cara kerja yang profesional (terampil) dan berdedikasi tinggi sehingga para pembeli/pelanggan memiliki gambaran positif, menghargai dan tertarik dengan kepribadian masyarakat Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata. Sehingga dengan demikian, pengembangan pariwisata di Yogyakarta terus bertumbuh dan berkembang.
  2. Hamzah Batik bagai membangun keluarga dengan penuh cinta kasih. Seperti menyebar benih pelayanan dengan kemesraan, dan memungut panen hasil penjualan dengan kegirangan. Dan dengan kerja dengan rasa cinta, dapat mengubah suara angin menjadi alunan gending yang semakin agung.

Berkat keuletan Hamzah dan dedikasi para karyawannya, kini Hamzah Batik semakin berkembang sesuai jaman namun tetap mempertahankan tradisi Yogyakarta dalam ruangannya. Terbukti dari furniture toko berwarna coklat kayu dengan sentuhan modern namun berhiaskan ornamen Jogja sebagai aksen. Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan pembatik, siter dan pianist berpakaian tradisional Jogja saat berbelanja. Pengunjungpun dapat menyaksikan Raminten Cabaret Show dan The New Kethoprak di panggung Raminten 3 Resto, lantai 3 Hamzah Batik. Intinya, Hamzah Batik merupakan dunia batik dan cinderamata representasi dari Kraton Yogyakarta untuk meningkatkan pariwisata di kota Jogja maupun Nasional.

02 Mar
Raminten
Posting pada 02 Maret 2017

Di salah satu sudut Hamzah Batik terpajang etalase kaca yang menampilkan galeri beberapa dokumentasi foto seorang tokoh ternama di Yogyakarta. “Mas, ini foto pemiliknya atau gimana?Terus, kenapa dia pakai kostum begini?” Beberapa pertanyaan itu sering dilontarkan pengunjung sambil memandangi deretan foto tersebut.

Memang, manusia tidak diciptakan sama satu dengan yang lainnya. Masing – masing manusia pasti memiliki sisi lain sendiri yang menyebabkan dirinya berbeda. Begitupun dengan Hamzah Sulaiman, pendiri Hamzah Batik yang memiliki nama lain yaitu Raminten. 

Sedari kecil, Hamzah sangat menyukai seni peran yang dikenalinya saat mendengarkan cerita wayang wong di radio. Sampai suatu ketika sang ibu mengajak kelima putranya untuk belajar menari untuk cerita wayang wong. Dari keempat saudaranya, hanya Hamzah yang tertarik mengikuti tari tersebut dilanjutkan sampai ke level yang lebih tinggi. Setelah Hamzah pensiunpun, dirinya tetap mengikuti latihan tari setiap hari Selasa. Hamzah juga sering tampil di acara kethoprak. Salah satunya berjudul Pengkolan. Hamzah berperan sebagai mbok ban atau ibu berumur setengah baya lebih. Raminten. Begitulah nama panggilannya saat berada di panggung hiburan. Raminten adalah sosok pribadi yang peka terhadap sekitarnya. Ia juga berhati baik, suka membantu dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Raminten memiliki arti ora-minten ( tidak seberapa ). Maksudnya, manusia itu hanya manusia. Manusia itu tidak seberapa dan yang dimilikinyapun juga tidak seberapa, untuk menjadi lebih, manusia membutuhkan manusia lainnya dan peduli terhadap sekitarnya.

Hamzah sangat senang dengan julukan Raminten. Iapun sering berdandan layaknya mbok ban dengan konde besar,gincu merah dan kacamata bulat dalam balutan pakaian kebaya dipadukan dengan Jarik berwiru. Orang – orang sekitarpun kian lama mengenal sosok Raminten dengan karakter penampilannya tersebut. Akhirnya, Hamzah memutuskan bahwa nama Raminten menjadi brand di salah satu bidang usahanya.

The House of Raminten. Sebuah bidang usaha kuliner yang menjual berbagai macam jamu tradisional dan mie. The House of Raminten berdiri pada 26 Desember 2008 dan terletak di Jalan M. Faridan No. 7, Kotabaru. Seiring dengan permintaan konsumen, kini The House of Raminten berubah menjadi kafe yang menyediakan berbagai macam makanan tradisional hingga manca negara. Walaupun mengalami pergeseran konsep menu, Raminten tetap mempertahankan suasana Jogja yang hadir di dalam kafe tersebut. Pendopo Jogja, alunan gendhing Jawa, kembang – kembang, aroma dupa dan para pembatik dapat dinikmati pengunjung sembari menunggu pesanan atau menyantap hidangan.

Sosok Raminten lebih dikenal dan mudah diingat orang – orang karena karakter yang dimiliknya. Kini, nama Raminten juga menjadi brand di beberapa bidang usaha lainnya, seperti: The Waroeng of Raminten, Raminten 3 Resto, Raminten Photography, Raminten Uborampe, Raminten Cabaret Show, dan Bakpia Raminten.