Ragam Hias Batik (Part 1)

Ragam Hias Batik (Part 1)

diposting 13 Juni 2017 by Admin

Setelah kemaren kita bahas asal mula batik serta perkembangan dari masa ke masa, kali ini kita bahas tentang motif-motif beserta filosofinya. Batik sebagai karya seni seperti halnya lukisan. Setiap coretan mempunyai maksud dari pembuatnya. Tak jarang motif-motif batik dahulu mempunyai makna yang sangat mendalam, bahkan dalam penciptaan motifnya sendiri pencipta melakukan ritual seperti puasa, untuk mendapatkan motif. Oleh karena itu batik-batik tradisional dipercaya mempunyai kekuatan atau energi.

Hal yang menakjubkan dari batik adalah bahwa batik merupakan proses yang lahir dari penggambaran alam dan lingkungan sekitar. Sebuah konsep penggambaran yang tidak sederhana bahkan dari sistem etimologinya. Motif dan ornamentasinya memiliki tingkat kompleksitas yang sangat menarik. Menurut Sultan Hamengku Buwono X, dalam buku Fisika Batik, nenek moyang kita telah meninggalkan jejak matematika fraktal pada kain batik Indonesia. Fraktal adalah cabang ilmu matematika yang mengungkapkan teknik perulangan, bentuk – bentuk geometri dengan kemiripan yang memiliki tak berhingga detail. Jenis pola yang berulang pada kain batik dapat menghasilkan pola khaos ( ketidakberaturan). Kesadaran akan bentuk fraktal yang terdapat di alam semesta dan ditranformasikan ke dalam bentuk kriya dan estetika dapat menjadi inspirasi sains dan teknologi yang berkembang. Berat juga ya bahasanya kalau dilihat dari perspektif filsafat. Jadi initinya batik itu unik dilihat dari segala sisinya, baik pola maupun motifnya.

Berdasarkan publikasi Batik: The Impact of Time and Environment oleh H. Santosa Doellah, terdapat setidaknya tiga tahapan proses dalam ornamentasi batik, yakni;

  1. Klowongan; merupakan proses penggambaran dan pembentukan elemen dasar desain batik secara umum.
  2. Isen – isen; proses pengisisan bagian – bagian dari ornamen dan pola yang ditentukan. Terdapat pola yang biasa digunakan secara tradisonal seperti motif cecek, sawut, cecek sawut, dan sisik melik.
  3. Ornamentasi harmoni ; Penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga menunjukan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola ukel, galar, gringsing, atau beberapa pengaturan yang menunjukan modifikasi tertentu dari pola isen, misalnya sekar sedhah, rembyangdan sekar pacar.

Berdasarkan buku Peranan Batik Sepanjang Masa, Batik tradisional dapat digolongkan menjadi 2 ragam hias yaitu Ragam Hias Geometris dan Ragam Hias Non Geometris. Berbicara tentang ragam hias pastinya tidak akan cukup dalam 1 halaman ini. Maka dari itu kita akan bahas lagi di artikel selanjutnya tentang ragam hias geometris dan non geometris. Matur nuwun.

Berita & Acara Terbaru

TUPITU KOPI
TUPITU KOPI
diposting 15 Juni 2021
LANTING RAMINTEN
LANTING RAMINTEN
diposting 14 Juni 2021
JAMU GENDONG RAMINTEN
JAMU GENDONG RAMINTEN
diposting 21 Maret 2020
JAMU EMPON-EMPON
JAMU EMPON-EMPON
diposting 20 Maret 2020
Sugeng Tanggap Warso
Sugeng Tanggap Warso
diposting 08 Januari 2020
Moendhi Dharma menyemarakkan acara Tourism Industry meeting di Royal Ambarukmo Hotel Yogyakarta