Masyarakat Jawa dikenal memiliki warisan budaya yang kaya, salah satunya adalah Primbon Jawa. Kitab tradisional ini berisi berbagai pedoman kehidupan, mulai dari perhitungan hari baik, watak seseorang berdasarkan weton, hingga penafsiran mengenai bulan-bulan dalam kalender Jawa.
Salah satu bulan yang sering menjadi pembahasan adalah Bulan Sapar menurut Primbon Jawa. Tidak sedikit masyarakat yang masih mengaitkan bulan ini dengan berbagai kepercayaan, pantangan, hingga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Lalu, benarkah Bulan Sapar dianggap sebagai bulan yang kurang baik? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Bulan Sapar dalam Kalender Jawa?
Bulan Sapar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang diadopsi ke dalam kalender Jawa Islam. Nama “Sapar” berasal dari kata Safar, yaitu bulan kedua dalam kalender Islam.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, setiap bulan dipercaya memiliki karakteristik dan filosofi tersendiri. Hal inilah yang kemudian menjadi bagian dari penafsiran dalam Primbon Jawa.
Namun perlu dipahami, isi Primbon Jawa merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan budaya yang berkembang di masyarakat, bukan aturan yang bersifat mutlak.

Makna Bulan Sapar Menurut Primbon Jawa
Menurut Primbon Jawa, Bulan Sapar sering dikaitkan dengan masa untuk lebih berhati-hati dalam menjalani berbagai aktivitas penting.
Kepercayaan tersebut muncul karena pada zaman dahulu masyarakat menganggap bulan ini sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak doa, dan memohon keselamatan kepada Tuhan.
Oleh karena itu, banyak tradisi yang berkembang pada Bulan Sapar lebih menekankan pada kegiatan spiritual, sedekah, serta mempererat hubungan antarwarga.
Mengapa Bulan Sapar Dianggap Kurang Baik?
Dalam beberapa naskah dan kepercayaan masyarakat Jawa, Bulan Sapar dipercaya sebagai bulan yang penuh ujian atau cobaan. Dari keyakinan tersebut muncul anggapan bahwa masyarakat sebaiknya lebih berhati-hati ketika mengambil keputusan besar.
Kepercayaan ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa.
Meski demikian, pandangan tersebut tidak berlaku untuk semua orang maupun semua daerah. Banyak masyarakat Jawa modern yang memaknai Bulan Sapar sebagai momen untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperbanyak amal baik, bukan sebagai bulan yang membawa kesialan.

Pantangan Bulan Sapar Menurut Primbon Jawa
Di beberapa daerah di Jawa, masih terdapat kepercayaan mengenai pantangan selama Bulan Sapar. Beberapa di antaranya meliputi:
1. Menunda Pernikahan
Sebagian masyarakat percaya bahwa mengadakan pernikahan pada Bulan Sapar kurang membawa keberuntungan bagi kehidupan rumah tangga.
Karena itu, beberapa keluarga memilih bulan lain untuk melaksanakan akad maupun resepsi.
Namun, banyak pula masyarakat yang tetap melangsungkan pernikahan di Bulan Sapar tanpa mengaitkannya dengan kepercayaan tersebut.
2. Menghindari Pindah Rumah
Ada pula kepercayaan yang menyarankan agar tidak berpindah rumah selama Bulan Sapar karena dikhawatirkan membawa hambatan dalam kehidupan.
Kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi lokal dan tidak memiliki dasar dalam ajaran agama.
3. Tidak Memulai Usaha Besar
Sebagian orang Jawa zaman dahulu juga menghindari membuka usaha baru atau memulai proyek besar pada Bulan Sapar.
Tujuannya adalah menghindari risiko kegagalan menurut perhitungan Primbon Jawa.
Saat ini, banyak pelaku usaha yang lebih mempertimbangkan aspek perencanaan, peluang pasar, dan kesiapan bisnis dibanding mengikuti kepercayaan tersebut.
Tradisi Saparan dalam Masyarakat Jawa
Terlepas dari berbagai kepercayaan yang berkembang, Bulan Sapar justru identik dengan berbagai tradisi budaya yang masih lestari hingga sekarang.
Sedekah Bumi
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan rezeki yang diberikan Tuhan.
Masyarakat membawa makanan, hasil bumi, atau tumpeng untuk didoakan bersama sebelum dibagikan kepada warga.
Kirab Budaya
Di sejumlah daerah seperti Yogyakarta, Solo, Klaten, dan sekitarnya, Bulan Sapar dirayakan dengan kirab budaya.
Kirab biasanya menampilkan:
- Gunungan hasil bumi
- Tari tradisional
- Musik gamelan
- Wayang kulit
- Prajurit adat
- Arak-arakan budaya
Tradisi ini menjadi daya tarik wisata sekaligus media pelestarian budaya Jawa.

Bersih Desa
Bersih desa menjadi simbol membersihkan lingkungan sekaligus memanjatkan doa agar masyarakat diberikan keselamatan dan kesejahteraan.
Tradisi ini juga memperkuat semangat gotong royong antarwarga.
Pandangan Islam tentang Bulan Safar
Karena Bulan Sapar berasal dari Bulan Safar dalam kalender Hijriah, tidak sedikit yang mempertanyakan hukumnya dalam Islam.
Secara umum, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil yang menyatakan Bulan Safar merupakan bulan pembawa sial. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menolak anggapan bahwa suatu bulan memiliki kesialan yang melekat.
Dengan demikian, kepercayaan mengenai pantangan pada Bulan Sapar merupakan bagian dari tradisi budaya yang berkembang di sebagian masyarakat, bukan ajaran agama yang bersifat wajib diikuti.
Toko Batik dan Oleh-oleh Khas Jogja

Jika Anda tertarik tentang budaya dan tradisi Jawa. Silahkan mampir mengunjungi Hamzah Batik Malioboro karena di sana Anda dapat menemukan beragam ornamen dan pernak-pernik tardisional Jawa, selain itu ada juga baju batik dan oleh-oleh khas Jogja. Berlokasi di Malioboro depan pasar Beringharjo, Hamzah Batik menyediakan beragam oleh-oleh Jogja seperti batik, camilan, kerajinan, dan cinderamata khas Jogja.
Kunjungi toko Hamzah Batik di Malioboro depan pasar Bringharjo, atau pesan melalui WhatsApp di 08112544239 atau 08112544245. Untuk bantuan atau saran selama berbelanja, hubungi Customer Service di WA 081128293456 atau melalui email cs@hamzahbatik.co.id.






