Tentang Kami

Hamzah Batik, Sejak 1979 Melestarikan Budaya

Toko Pusat Oleh oleh Jogja Hamzah Batik

Sebelum sebesar sekarang sebagai pusat oleh-oleh Jogja, dulunya tepat di bahu barat Jalan Malioboro, berdiri sebuah bangunan berwarna putih. Bangunan ini terletak di utara Gedung Agung serta berseberangan dengan Benteng Vredeburg dan Pasar Bringharjo. Bangunan ini dipadati oleh pengunjung yang disambut Prajurit khas Kraton Yogyakarta sebelum memasuki pintu masuk yang bertuliskan ”Copet Dilarang Masuk”.

Kalimat yang menggelitik itu menambah rasa penasaran pengunjung untuk merasakan atmosfir lainnya dalam bangunan tersebut. Dan ternyata, sensasi lain pun dapat dinikmati sembari berbelanja produk oleh-oleh yang tertata dengan berbagai macam pilihan. Pengunjung dapat merasakan sensasi aroma yang berasal dari dupa, sensasi suara yang berasal dari iringan gendhing Jawa dan sensasi penglihatan yang dapat dinikmati dari tatanan kembang – kembang, Kereta Kencana, foto–foto dokumentasi serta display ala Kraton.

Pengunjungpun disambut oleh keramahan karyawan dalam balutan seragam berkonsep Jawa dengan sentuhan modern dan elegan. Tak heran, jika banyak pengunjung yang mengabadikan gambar saat berada dalam bangunan ini. Hamzah Batik yang dulunya bernama Mirota Batik. Begitulah nama dari bangunan ini dengan segala keunikannya.

Foto pemilik Hamzah Batik

Semangat Yang Tak Padam Walau Terlalap Api, Hamzah Sulaiman: Dibalik Kesuksesan Hamzah Batik

Pada awalnya, Mirota Batik hanya menempati ruang kecil yang terdapat di sudut selatan bagian depan dengan luas 110m2. Tetapi keuletan Hamzah membuktikan bahwa Mirota dapat bertahan dan semakin berkembang hingga menjadi pusat oleh-oleh Jogja. Toko tersebut kian lama semakin dipadati oleh pengunjung dan dikenal untuk berburu oleh-oleh Jogja. Namun pada awal tahun 2004, Hamzah mendapat ujian ketika Mirota Batik dilalap api hingga hangus terbakar. Hal ini membuat Hamzah gelisah karena bangunan rusak dan untuk memperbaikinya diperlukan proses renovasi. Terlebih lagi, Hamzah sangat memikirkan nasib karyawannya yang menaruh harapannya pada Mirota Batik. Maka dari itu, Hamzah membuka Mirota Batik yang berada di timur Jalan Malioboro sebagai toko sementara. Hal ini ia lakukan agar para karyawannya dapat tetap bekerja sambil menunggu Mirota Batik dibangun kembali.

Ternyata, cobaan ini mampu dilaluinya, ia mengambil sikap hingga lambat laun Mirota Batik menampakan fisik bangunannya. Tak tanggung – tanggung, kini bangunan tersebut diperluas hingga tiga lantai. Lantai 1 untuk counter batik, oleh – oleh, makanan, dan jamu herbal. Lantai 2 untuk counter kerajinan dan cinderamata. Lantai 3 khasanah muslim dan pakaian anak . Selain itu, Hamzah menambah fasilitas lainnya seperti ruang tunggu Raminten 3 Resto dan Raminten Photography. Kini, Mirota Batik berganti nama menjadi Hamzah Batik karena Hamzah ingin mengabadikan namanya dalam karya di bidang usahanya dan tumbuh menjadi pusat oleh-oleh Jogja terbesar dan terlengkap.

Perkembangan Hamzah Batik sampai saat ini tidak lain adalah bekal ilmu dari Hamzah untuk para karyawannya. Hamzah menitipkan sebuah falsafah sebagai bekal dalam berkarya di Hamzah Batik.

Mirota Batik yang dibuka pada tahun 1979, awalnya berkonsep sebagai Malioboro Baru sebagai pasar kecil dengan beberapa kios atau stand. Saat itu, pusat perbelanjaan Malioboro yang ramai masih berada di sekitar toko Ramai di bagian utara, sehingga Malioboro Baru relatif masih sepi. Hamzah sendiri mulai memperkenalkan Mirota Batik hanya dengan menyewa tiga stand yang diisi dengan produk batik dan kerajinan. Usaha ini lambat laun berkembang, Hamzah pun memperbanyak stand yang disewanya. Begitu seterusnya hingga akhirnya Mirota Batik semakin berkibar hingga sekarang.

Nama Mirota Batik diadopsi dari nama usaha toko makanan dan minuman yang dimiliki orang tua Hamzah pada tahun 1950-an. Nama Mirota merupakan kependekan dari Minuman, Roti, dan Tawar. Pada saat itu, toko Mirota berlokasi di Kotabaru dan khusus menjual bahan pokok dan makanan, seperti gula, kopi, mentega, roti tawar, dan sebagainya.

Pada tahun 2004 terjadi musibah kebakaran yang menimpa toko Mirota Batik, padahal pada saat itu penggunjung toko Hamzah batik sedang ramai-ramainya. Sehingga untuk sementara Mirota Batik membuka tokonya di Mirota Gallery yang berlokasi di Jalan Malioboro, sambil menunggu renovasi bangunan Hamzah Batik. Satu tahun semenjak kejadian tersebut, bangunan Hamzah Batik Malioboro selesai dibangun dan menjadi tiga lantai dengan luas bangunan 802 m² dengan denah lantai 1 berisi beragam oleh-oleh seperti Batik, Camilan, dan Jamu. Lalu di lantai 2 berisi beragam kerajinan seperti perhiasan, anyaman, lukisan, dan lain-lain. Kemudian di lantai 3 berisi kazanah muslim dan pakaian anak. Selain itu, Hamzah menambah fasilitas lainnya seperti ruang tunggu Raminten 3 Resto dan Raminten Photography. Kini, Mirota Batik berganti nama menjadi Hamzah Batik karena Hamzah ingin mengabadikan namanya dalam karya di bidang usahanya dan tumbuh menjadi pusat oleh-oleh Jogja terbesar dan terlengkap.

Visi


Pusat Aksi, Atraksi, dan Edukasi Budaya Jawa

Visi ini memiliki arti :

  1. Hamzah Batik berusaha menjadi referensi dari Jogja yang kaya akan berbagai falsafah
  2. Hamzah Batik berusaha agar pengunjung yang datang ke Jogja yang ingin mencari sesuatu yang berbau tradisi Jawa akan datang ke Hamzah Batik

Misi


  1. Menjaga tradisi Jawa Jogja
    Hal tersebut dilakukan untuk selalu menjaga nilai moral yang ditumbuhkan oleh tradisi Jawa yaitu ramah, sopan, andhap asor, dan alus dalam menjalankan usaha
  2. Membantu UKM yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya
    Dengan memberikan bantuan kepada UKM (Usaha Kecil Menengah) diharapkan supaya taraf hidup warga sekitar semakin meningkat dan Hamzah Batik menjadi wadah kreatifitas warga Jogja

Falsafah


  1. Hamzah Batik merupakan suatu keluarga besar yang berusaha meningkatkan taraf hidup melalui cara kerja yang profesional (terampil), dan berbedikasi tinggi sehingga para pembeli/pelanggan memiliki gambaran positif, menghargai, dan tertarik dengan kepribadian masyarakat Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata. Dengan demikian, pengembangan pariwisata di Yogyakarta terus bertumbuh dan berkembang.
  2. Hamzah Batik membangun keluarga dengan penuh cinta kasih seperti menyebar benih pelayanan dengan kemesraan, dan memungut panen hasil penjualan dengan kegirangan. Hanya bekerja dengan rasa cinta kasih, dapat mengubah suara angin menjadi alunan gending yang semakin agung.

Kami Mempersembahkan Sebuah Pengalaman Dengan Nuansa Jawa Untuk Menemani Anda Berbelanja


Nuansa budaya Jawa yang kental

Kecintaan Hamzah Sulaiman tidak hanya tertuju pada batik dan cinderamata saja, beliau juga sangat menaruh kecintaan terhadap budaya Jawa yang dituangkan dalam setiap sudut Hamzah Batik. AtmosPatung Ramintenphere budaya Jawa membuat suasana belanja lebih berkesan dan berbeda. Budaya Jawa yang menjadi pondasi Hamzah Batik untuk terus tumbuh berkembang.
 
 
 
 
Fasilitas yang nyaman dan lengkap

Hamzah Batik tidak hanya menyuguhkan sebuah pusat oleh-oleh Jogja namun juga memberikan fasilitas yang dibalut dengan nuansa budaya. Fasilitas lengkap dan nyaman akan menjadi salah satu oleh-oleh kenangan tak terlupakan dari Hamzah Batik.