YOGYAKARTA – Suasana khidmat dan penuh rasa hormat menyelimuti Gedung Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta (PUKJ) pada Jumat malam (10/04/2026). Segenap keluarga, kerabat, dan kolega berkumpul untuk memperingati satu tahun berpulangnya tokoh ikonik Yogyakarta, Hamzah Sulaiman, atau yang lebih akrab disapa Raminten, pendiri sekaligus pemilik Hamzah Batik.
Acara yang berlangsung mulai pukul 18.00 hingga 20.00 WIB ini merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi almarhum terhadap seni, budaya, dan dunia usaha di Yogyakarta.

Peringatan dibuka dengan penampilan istimewa dari Sanggar Among Bekso. Kelompok tari legendaris tersebut membawakan tarian klasik gaya Yogyakarta yang selaras dengan kecintaan almarhum terhadap kelestarian budaya Jawa semasa hidupnya. Gerakan gemulai para penari seolah menghidupkan kembali semangat “Raminten” dalam menjaga marwah tradisi.
Memasuki acara inti, dilaksanakan ibadah Misa yang dipimpin oleh Romo Bernardus Agus Rukiyanto, SJ. Dalam suasana doa yang khusyuk, para hadirin diajak untuk mengenang jasa-jasa almarhum serta mendoakan kedamaian abadi bagi sosok yang dikenal rendah hati dan dermawan tersebut.
Pihak keluarga yang diwakili oleh Ratri Kepsi menyampaikan sambutan hangat dan ucapan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa meski fisik almarhum sudah tiada, pengaruh dan ajarannya tetap hidup.
“Selama satu tahun ini, banyak pelajaran dan warisan berupa ilmu yang ditinggalkan almarhum kepada kami. Hal ini menjadi bekal yang sangat berharga untuk melangkah ke depan,” ujar Ratri Kepsi dalam sambutannya.

Sebagai penutup rangkaian acara peringatan satu tahun ini, dilakukan upacara khidmat pemindahan abu almarhum ke tempat baru yang masih berlokasi di area PUKJ. Prosesi ini diiringi langsung oleh keluarga inti sampai ke tempat bar.
Peringatan satu tahun berpulangnya Hamzah Sulaiman ini menjadi pengingat bagi masyarakat Yogyakarta akan sosok visioner yang berhasil memadukan pariwisata, kuliner, dan budaya dalam satu napas perjuangan. Sugeng tindak, Raminten. Warisanmu akan selalu abadi di hati kami.






