Walang goreng atau belalang goreng masih menjadi salah satu kuliner khas Gunungkidul yang paling banyak diburu wisatawan. Dengan rasa gurih dan tekstur renyah yang khas, walang goreng tidak hanya menjadi camilan, tetapi juga bagian dari cerita perjuangan masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari usaha tradisional ini.
Kisah Perjuangan Penjual Walang Goreng khas Gunungkidul
Salah satu penjual yang telah bertahan puluhan tahun adalah Surya, warga sekitar Jalan Baron, Gunungkidul. Ia mulai berjualan walang goreng sejak tahun 2002. Awalnya hanya dijadikan usaha sampingan, namun seiring waktu, walang goreng menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.“Awalnya dulu hanya coba-coba untuk sampingan saja. Tetapi lama-lama karena banyak yang suka dan memang sudah nyaman jualan, akhirnya jadi usaha utama sampai sekarang,” ujar Surya.Meski demikian, usaha ini tidak selalu mulus. Surya sering menghadapi pasang surut omzet akibat fluktuasi jumlah wisatawan dan sulitnya pasokan bahan baku. Bahkan, pernah dalam sehari ia tidak membawa pulang uang sama sekali karena sepi pembeli. “Kadang satu hari gak bawa uang juga pernah karena pas sepi pembeli. Tetapi sejauh ini tetap masih ada untungnya, alhamdulillah,” katanya saat ditemui di lapaknya di sekitar Jalan Jogja-Wonosari pada Selasa (19/05).

Jenis Walang yang Dijual dan Cara Penangkapan
Di lapak Surya, saat ini hanya tersedia satu jenis walang goreng, yaitu belalang padi. Sebelumnya ia sempat menjual belalang kayu yang berukuran lebih besar, tetapi jenis tersebut kini semakin langka ditemukan di alam liar.Proses mendapatkan belalang padi dilakukan dengan cara tradisional. Perburuan biasanya dilakukan pada malam hari, terutama saat musim panen tiba. Para pemburu menggunakan cahaya senter untuk menarik perhatian belalang. Dalam satu kali berburu, hasil tangkapan rata-rata mencapai satu botol air mineral ukuran besar.Setelah dikumpulkan, satu kilogram belalang dapat diolah menjadi sekitar delapan toples siap jual. Harga per toples walang goreng khas Gunungkidul ini dibanderol Rp30.000.
Potensi Penjualan Walang Goreng
Penjualan walang goreng sangat dipengaruhi oleh musim wisata. Pada hari biasa, seorang penjual bisa menjual 15–20 toples. Sementara pada hari libur dan musim liburan, angka penjualan bisa melonjak hingga 50 toples per penjual. Keistimewaan camilan khas Gunungkidul ini terletak pada kesederhanaan pengolahannya. Belalang yang telah dibersihkan digoreng dengan bumbu sederhana hingga menghasilkan tekstur renyah dan rasa gurih alami yang membuat banyak orang ketagihan.
Toko Batik dan Oleh-oleh Khas Jogja

Jika Anda sedang berwisata ke Jogja, jangan lupa untuk mampir ke Hamzah Batik Malioboro karena di sana Anda dapat menemukan beragam batik dan oleh-oleh terbesar dan terlengkap di Jogja. Berlokasi di Malioboro depan pasar Beringharjo, Hamzah Batik menyediakan beragam oleh-oleh Jogja seperti batik, camilan, kerajinan, dan cinderamata khas Jogja.
Kunjungi toko Hamzah Batik di Malioboro depan pasar Bringharjo, atau pesan melalui WhatsApp di 08112544239 atau 08112544245. Untuk bantuan atau saran selama berbelanja, hubungi Customer Service di WA 081128293456 atau melalui email cs@hamzahbatik.co.id.






