Kirab pusaka dan laku tapa bisu memperingati perayaan 1 Sura di Pura Mangkunegaran Solo bukan sekadar tradisi pergantian tahun dalam kalender Jawa. Setiap tahunnya, momentum ini menjadi ruang perenungan yang mengajak masyarakat untuk menengok masa lalu, menyadari masa kini, dan menata harapan untuk masa depan. Pada peringatan 1 Sura Dal 1959 atau Tahun Jawa 1959, Mangkunegaran mengangkat tema “Atita, Atiki, dan Anagata”, sebuah filosofi Jawa yang menggambarkan perjalanan waktu dan kehidupan manusia.
Tradisi yang berlangsung di lingkungan Pura Mangkunegaran ini menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Kota Solo. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan prosesi sakral yang memadukan nilai budaya, spiritualitas, dan refleksi diri dalam satu rangkaian acara.
Kirab Pusaka dan Laku Tapa Bisu Menjadi Puncak Perayaan
Salah satu tradisi yang paling ditunggu dalam perayaan 1 Sura di Mangkunegaran adalah Kirab Pusaka Dalem. Dalam prosesi ini, pusaka-pusaka milik Mangkunegaran diarak mengelilingi kawasan Pura Mangkunegaran dengan diiringi peserta kirab yang berjalan dalam keheningan
Keheningan menjadi elemen penting dalam kirab tersebut. Ribuan peserta mengikuti prosesi tanpa berbicara dan tanpa menggunakan alas kaki. Tradisi ini dikenal sebagai Laku Tapa Bisu, yang melambangkan perjalanan batin manusia untuk melepaskan energi lama sekaligus membuka ruang bagi makna dan harapan baru.
Rute kirab mengelilingi kawasan Kota Solo, dimulai dari Pura Mangkunegaran, melewati Koridor Ngarsopuro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, sebelum kembali ke Mangkunegaran. Perjalanan ini menjadi simbol siklus kehidupan yang terus berputar dari masa lalu menuju masa depan.

Acara Penutup Semedi
Setelah kirab selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi Semedi 1 Sura yang berlangsung tepat saat pergantian hari. Semedi menjadi simbol Anagata atau masa depan, ketika setiap orang diajak untuk menenangkan diri, memanjatkan doa, dan menyusun harapan baru.
Prosesi yang dipimpin langsung oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X ini berlangsung dalam suasana khidmat di area Pendhapa Ageng hingga Dalem Ageng. Bagi masyarakat Jawa, semedi bukan hanya bentuk ritual spiritual, tetapi juga cara untuk menyelaraskan pikiran, hati, dan tujuan hidup.
Toko Batik dan Oleh-oleh Khas Jogja

Jika Anda sedang berlibur ke Solo, jangan lupa mampir ke Jogja. Di Jogja terdapat toko batik dan oleh-oleh terlengkap dan terbesar yaitu Hamzah Batik Malioboro. Berlokasi di Malioboro depan pasar Beringharjo, Hamzah Batik menyediakan beragam oleh-oleh Jogja seperti batik, camilan, kerajinan, dan cinderamata khas Jogja.
Kunjungi toko Hamzah Batik di Malioboro depan pasar Bringharjo, atau pesan melalui WhatsApp di 08112544239 atau 08112544245. Untuk bantuan atau saran selama berbelanja, hubungi Customer Service di WA 081128293456 atau melalui email cs@hamzahbatik.co.id.






